Tiga Hari Untuk Selamanya di Madinah (Ku tinggalkan Cinta di Madinah, Saudi Arabia)
Float
– Tiga Hari Untuk Selamanya
Namaku
Vienna Austria, kelahiran Bogor kalo kata
KTP (sebenernya kata si Mama mah di
Jakarta haha). Ingin bercerita saat aku pergi melaksanakan ibadah umroh,
mungkin ini hanya akan menjadi kisah yang sekedar menjadi tulisan semata,
mungkin terasa semu, seolah bagaikan mimpi. Sembilan hari aku berada di negara
Arab yang di mana negara tersebut merupakan negara yang diidam-idamkan dan diagung-agungkan
oleh umat Muslim untuk melaksanakan ibadah disana, karena tempat tersebut
merupakan tempat bersejarah nyata yang paling religius yang memang Tuhan
utuskan bahwa negara tersebut menjadi negara suci yang sakral.
Aku
gak pernah tau bahkan menyangka jika
kehadiranku di Madinah, Saudi Arabia malah mempertemukan aku dengan pria tampan
berumur 22 tahun (well doi emang lebih
muda setahun – dua tahun dari gw wkwk) yang disapa oleh mereka dengan
“Mohamed”, sejujurnya bahkan aku tak tahu nama aslinya yang ku tahu dari sosial
medianya namanya adalah “Modi” dan “Mohamed Jalil”. Pria berperawakan tinggi,
wajahnya tidak begitu seperti orang Arab kebanyakan, ku rasa dia bercampur
darah Turki dan Pakistan tapi kayaknya
lebih ke Turki sih hehe. Tinggi badannya sama sepertiku, yang ku kira
awalnya dia hanya sekedar iseng karena setiap aku lewat depan tokonya yang
super dekat dengan hotelku pasti dia selalu menyapa “Assalamualaikum, hai
Tinggi.” Atau “Assalamualaikum, hai Cantik.” Hahahaha awalnya ku benar-benar
berpikir dia adalah anak muda Arab yang iseng, namun selalu ada momen di mana
setiap aku berpapasannya di hotel saat waktu selepas zhuhur, dan kami
berpapasan lalu saling bertatapan ku melihat pandangannya berbeda, dia terlihat
malu-malu, bahkan saat ku berusaha memberikan senyum dia malah tertunduk malu
seperti tersipu. Gaya berpakaian selayaknya orang Arab pada umumnya, gamis
panjang, kalau dia salat dia menggunakan peci putih, jujur dia sangat tampan
dan ku lihat setiap wanita muda, ibu-ibu, bahkan sampai nenek-nenek yang
melewati depan tokonya selalu terlihat tergoda dan tersipu karena
ketampanannya. Kocaknya bagaimana
bisa aku mengabaikan setiap sapanya haha.
Waktu
yang tersisa tinggal satu hari lagi, ya aku hanya tiga hari saja berada di
Madinah, dan ku baru menyadari kehadirannya setelah hari ke-3 di Madinah, tepat
setelah lagi-lagi selesai salat zhuhur saat itu rombongan umrohku habis nyasar ada masalah, aku menangis,
setelah ku kembali ke hotel ku melihat dia yang seperti menyapaku ceria karena
melihatku menangis saat dia menggodaku “Hai
cantik~” kemudian dia terheran ada apa denganku, dan aku kembali ku meminta
Mama untuk pergi ke tokonya untuk belanja serta sekalian mencari hiburan dengan
dirinya haha. Dan ternyata di last day inilah
dia ternyata benar-benar menunjukkan bahwa dia sungguh-sungguh tertarik
denganku tanpa memandang kejelekkan fisikku selama aku di Madinah, ya
masalahnya di sana aku benar-benar tidak make
up ditambah saat itu sedang berjerawat wkwk.
Dia izin ke Mamaku untuk menjadi suamiku haha dan dia bilang “I want to come back” dan saat itu
sebelum aku meninggalkan Makkah dia memintaku dengan serius untuk berjanji
bahwa aku akan kembali lagi. Sayangnya, aku pada pagi harinya tidak sempat
bertemu dengannya dulu untuk mengucapkan selamat tinggal dengan benar, padahal
dia sudah tahu bahwa besoknya aku akan ke Makkah tapi aku tidak melihatnya.
Terakhir hanya sempat bertukar social media Instagram saja, saat aku kembali ke
Indonesia dia semakin galau dan lebih
sedihnya aku melihat dia melanjutkan pendidikan ke London, Inggris ya rasanya
semakin jauh saja, siapalah aku yang terlahir dari keluarga yang biasa-biasa
saja, andai aku punya banyak uang mungkin aku akan menemuinya ke London saat
itu. Terkadang aku memberikan komentar pada story instagramnya, terkadang dia
membalas singkat, dan seringkalinya dia hanya read saja tetapi tak mengapa entah
begitu saja rasanya sudah cukup. Ohya
sebelumnya aku lupa si Modi alias Mohamed ini, dia jago bahasa dia cukup
lancar berbahasa indonesia, melayu, dan inggris makanya komunikasi kami saat
bertemu bergitu lancar, namun tidak dengan kisah cinta kami berdua hehe.
Tiga
hari di Madinah, sungguh saat-saat singkat yang begitu berharga, keikhlasan
saja pada akhirnya yang menjadikan kami untuk saling melepaskan bersama-sama.
Doa kepada Tuhan saja yang selalu kami panjatkan demi kebahagiaan bersama,
terakhir ku melihat dirinya mengupdate ”I
just want to be with you!” oh man it hurts me bad haha, dia sepertinya
benar-benar sedih tapi apalah guna juga jika kami saling mencintai namu tidak
ada yang bisa mengalah untuk memperjuangkan?. Padahal ku jelas tahu dia jauh
lebih mampu daripada aku untuk dapat datang ke Jakarta, Indonesia. Katanya dia
akan datang, namun kenyataannya dia tidak pernah datang sampai sekarang.
Lagipula aku sudah cukup bersyukur karena ada seseorang yang benar datang dan
menunjukkan keseriusannya, rasanya dia sudah jauh lebih dari cukup, ku yakin
Allah telah menghadiahkan dirinya untukku dan diriku untukknya (aamiin yaa rabbal’alamiin). Ku tahu hati
Modi sedih namun bahagia dan dia berdoa agar aku dapat berbahagia dengan
hidupku, begitupun juga dengan diriku, ku harap Modi dapat menemukan cintanya
yang mampu bisa bersamanya dan berjuang bersama. Jujur, terkadang aku takut dia
mendadak berjihad dan mengabdikan dirinya untuk negaranya dan agamanya, ku
takut dia lebih memilih berperang daripada harus mencari wanita lain lagi
selain diriku. Ku harap tidak, ku harap dia menemukan kebahagiaannya dan
cintanya (aamiin). Kini Modi hanya
tinggal kenangan yang bagaikan mimpi, tiga hari lalu pergi. Akupun sudah
menghapus social media instagramku (meski mungkin nanti aku akan kembali untuk
membuatnya kembali, tapi entah kapan),
ku tak tahu apakah dia menyadarinya, apakah dia akan mencariku?. Ah sudahlah ku
lakukan ini juga demi kebaikan diriku dan kebaikan bersama, ku harap dia dapat move on menemukan wanita “tinggi” lainnya yang jauh lebih baik dan
cantik dariku haha (serius tapi). “Cinta
itu harus saling, bukan paling”. Sekian kisah ini mohon dimaklumi jika
tulisan dan alurnya berantakan, maklum amatiran haha. J
Ditulis pada 22 November 2018, tersimpan rapih didalam flashdisk. Btw ini terinspirasi dari pengalaman nyata saat Umroh pada Februari 2018. Enjoy my story! ♡
Comments
Post a Comment