Meja dan Kursi Kayu
Dalam sudut meja dan kursi kayu
Sunyi, sepi, sendiri, lebih tepatnya menyendiri
Tubuh pun terkulai lemah, melayu
Sekejap bernapas, berusaha untuk berdiri
Kretekku pun habis tanpa sisa
Hanya asbak yang bisa menampung abu-abunya
Banyak hal yang tidak biasa
Dan kini terlewati dengan sendirinya
Jenuh dirasa dalam jiwa, namun ditampakkan semangat dalam raga
Merenung diri dalam pangkuan tangan, Tuhan apakah Engkau benar-benar ada?
Jika yang dikerjakan ini demi surga
Lantas, mengapa aku merasa seperti tiada?
Vienna, sudah pernah ditulis pada 08 Oktober 2018.
Comments
Post a Comment