JODOH?

Hallo semuanya bagi yang mungkin kebetulan melihat blog gw, jadi ini gw mau merepost tulisan yang pernah ditulis pada tanggal 01 Februari 2018, yaa tepat 2 tahun yang lalu menulis seperti (nanti di copas di bawah ini). Tulisan ini diperuntukkan untuk salah seorang pria baik yang mnemani kehidupan unik gw selama 5 tahun, dan ternyata hubungan kedekatan kami harus dipisahkan oleh pernikahannya yang dilaksanakan pada 2017. Aneh memang, tapi nyata begitu adanya, dia adalah pria terbaik yang menemani gw setelah terjadinya patah hati yang berlebih setelah lulus sekolah hahaha (btw dear my ex kalo lu nyadar udah ga usah geer ya kita kan udah ceesan menjadi sejiwa namun tak bersama sekarang :p) ya begitulah pokoknya. Waktu itu gw menangis sesegukkan sampe satu minggu dong wkwkwk cuma setelahnya super lega karena setidaknya istri yang disandingkan dengannya adalah wanita terbaik yang pernah ku temui, sangat ramah, dan juga welcome. Kini hubungan kami pun tetap baik, sangat senang rasanya dan si Pria tersebut ini pernah berpesan sama gw bahwa "Sepait apapun tetap patuhi orangtua lo, dan gw yakin akan ada Pria yang bener-bener paham dan suka sama lo yang begini apa adanya. be yourself pokoknya, kalo mau berubah boleh tapi bukan berarti menjadi yang merubah jati diri kita. Gw berharap pasangan lo nanti adalah orang yang selalu siap sedia menjadi pendengar yang baik setiap keluh kesah lo ataupun setiap cerita bahagia yang lo lakuin. Lakukan semua hal yang lo suka, menggambar, modeling, dan kerja yang bener jangan kecewain orang tua", haf  ya kira-kira begitu adanya singkat ceritanya, karena semisal gw jabarin dari awal bakal jauh lebih panjang sih. Jadi intinya inilah yang gw tuliskan pada 2 tahun yang lalu:

Pelajaran yang ku dapatkan adalah, kalo ga jodoh ya ga jodoh aja sampai kapanpun ga akan jodoh. Meski rasanya hati dan raga sangat kuat ingin bertemu, tapi apa mau dikata setiap waktu yang kita rencanakan, dibatalkan begitu saja oleh Tuhan. Seolah memang sudah jalanNya, bahwa kita tidak boleh untuk saling bertemu, kita tidak boleh bertatap muka. Kini mungkin setidaknya diri ini mengerti apa alasannya, karena Tuhan tidak ingin membuat dua insan ini semakin bersedih dan semakin sulit untuk saling melepaskan. Kini dia sudah sah bersama yang lain, aku juga tidak bisa berbuat apa-apa. Sejak awal memang aku sudah menduga sepertinya kita hanya akan menjadi sebatas teman saja, kini rasa sayang ini telah tergantikan menjadi sayang sebagai sahabat. Setidaknya Tuhan telah mengabulkan keinginan saya agar jika bukan dia, ku harap dia bisa lebih dahulu menikah daripada aku. Dan Tuhan mengabulkannya. Karena bahagianya adalah bahagiaku, jika klasik mendengar kata "Aku ingin melihatnya bahagia meski tanpa aku", tapi sungguh ternyata itu benar adanya, sedih? Tak usah ditanya. Namun aku tetap bahagia karena dia menemukan tulang rusuknya lebih dahulu daripada diriku. Perkara bahagiaku mungkin masih jauh lebih mudah, dibanding kisah pahitnya yang ku tahu selama ini darinya. Tuhan lebih tahu mana yang terbaik untuk kita bukan?. Hati memang tidak pernah ada yang tahu kedalamannya, tapi jika kamu yakin tetap saja orang yang sudah bersama kamu yang telah Tuhan pilihkanlah yang terbaik. Jadi semua adalah atas dasar izin Tuhan, pilihan Tuhan kehendak Tuhan, dan takdir Tuhan. Semua telah tertera didalam kitab Lauh Mahfuz-Nya, semisal waktu bisa diputar pun, jika kamu sudah berusaha merubah dengan keras, tapi didalam kitabNya tetap tidak ada namamu, maka endingnya pun akan tetap sama. Dia bukan untukmu, dan kamu bukan untuknya.
Sekian cerpen dan renungan Wina Prinjani di malam hari, kalau ada yang sudi membacanya sampai habis saya ucapkan sangat terimakasih. 💘🤗

Comments

Popular Posts